Memang benar, umur banyak belum tentu menunjukkan kita punya tujuan hidup yang jelas. Saya lho, yang sudah kepala 3, akhirnya baru bisa menentukan mau dibawa ke mana hidup ini; tujuan saya di Jepang mau ngapain dan sampai kapan.

Tiga tahun lalu saya pindah ke Kanuma. Jujur, saya stres berat. Harus adaptasi di tempat kerja baru, mengejar JLPT N2, dan dituntut harus sempurna—tidak boleh salah sedikit pun dalam bekerja. Bahkan untuk hobi sendiri saja, kadang tidak ada sisa energi. Banyak teman di Indonesia yang sering berkomentar, "Apa sih yang kamu kejar, Di? Dengan pengalaman segitu, kamu bisa balik ke Indonesia dengan jabatan senior loh."

Ya, mungkin mereka benar. Tapi, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya punya gap year yang bikin saya trauma, hahaha. Jadi saya agak ngeri kalau harus "reset" karier dari nol lagi. Lagipula, sebagai seorang engineer, saya realistis. Pekerjaan saya saat ini rasanya tidak didesain untuk wanita yang ingin berkeluarga nanti. Akhirnya saya memutuskan: saya akan menyelesaikan masa kerja saya hingga genap 10 tahun dan fokus untuk mendapatkan Permanent Resident (PR) Jepang. Namun, saya tidak mau mengakhiri perjalanan ini begitu saja. Sebelum "pensiun" dari dunia permesinan ini, saya ingin mengejar sertifikasi CAD/CAM sebagai legacy untuk diri sendiri. Ibaratnya, ini tanda bukti kalau saya pernah "berjuang" di sini.

Tentang rasa terburu-buru itu...

Jujur, di balik rencana itu, ada satu perasaan yang sering mengusik: rasa terburu-buru. Saya merasa seperti sedang dikejar usia untuk segera membuka bisnis. Kepala saya rasanya tidak bisa diajak kompromi; maunya 'plan A' segera "jadi" sekarang juga. Saya takut, kalau saya tidak bergerak cepat sekarang, saya akan kehabisan waktu atau kehabisan keberanian. Padahal, saya tahu membangun bisnis itu seperti maraton, bukan lari sprint. Tapi ya, namanya juga manusia, kadang logika PR (yang butuh waktu bertahun-tahun) sering bentrok dengan ambisi bisnis yang maunya instan. Saya sedang belajar menenangkan diri sendiri: PR adalah tiket keamanan saya, tapi bisnis adalah tiket kebahagiaan saya. Keduanya butuh waktu, dan mungkin saya harus sedikit lebih sabar dengan diri saya sendiri.

Selain itu, perjuangan menuju Permanent Resident (PR) Jepang zaman sekarang itu rasanya makin kompleks, kayak lagi main game yang tingkat kesulitannya ditambah terus tiap update. Aturannya makin ketat, biayanya pun bikin dompet nangis. Di saat yang sama, saya punya ambisi buat bangun 'Plan A'. Tapi ya gitu, mau buka bisnis dengan modal yang pas-pasan itu rasanya kayak mau bikin gedung pencakar langit tapi cuma punya bata tiga biji.

Jujur saja, ini dilema yang bikin saya ketawa getir. Saya merasa dikejar usia buat segera eksekusi bisnis, tapi di sisi lain, saya harus jadi 'bendahara yang irit' demi simpanan biaya PR yang tidak murah itu. Kadang saya merasa seperti lagi lari maraton sambil bawa beban berat di pundak—antara ambisi yang pengen lari kencang, dan realita kantong yang harus tetap 'puasa'. Antara mau maju terus atau kadang pengen pura-pura pingsan saja, deh, hahaha.

November 2026 visa ku resmi akan habis dan berarti 7 tahun sudah aku mendiami bumi jepang. Proses perpanjangan visa selanjutnya biayanya akan sangat tidak murah. Pemerintah sudah ketok palu dengan perubahan biaya administrasi visa renewal, baiklah saya korek korek dompet dulu 😄.