Sebenarnya, plot hidup saya tidak dimulai di Teknik Industri. Jauh sebelum itu, saya punya mimpi jadi desainer interior dan dokter hewan. Tapi, sebagai anak, saya punya insting tajam—saya tahu orang tua saya tidak terlalu happy dengan pilihan itu. Meski mereka tidak bilang langsung, saya memilih untuk tidak melawan dan mengalah.

Lalu masuklah saya ke fase "pembuktian diri." Saya mendaftar ke PTN jurusan Sastra Jepang di Semarang. Jujur saja, saya tidak hepi di sana. Saya daftar PTN itu bukan karena cinta mati sama bahasanya, tapi karena saya ingin membuktikan satu hal ke lembaga bimbel saya. Saya muak diremehkan karena hasil try out SNMPTN saya selalu jeblok, padahal saya bayar bimbel itu mahal-mahal. Di kelas, saya dikepung anak-anak dari SMA unggulan di Jakarta dan Bekasi, dan saya merasa "anak buangan" yang dipandang sebelah mata karena hanya saya yang dari sekolah swasta. Saya hanya ingin membuktikan: "Saya kompeten juga kok kalau saya mau.” Bagi orang tua dan anak-anak di bimbel itu kayaknya “masuk PTN adalah segalanya, tak peduli apapun jurusannya” semata mata hanya mengejar ‘prestige’ kampus negeri.

Saya berhasil lolos PTN di Semarang jurusan sastra Jepang, dan wow respon sigap dari pihak bimbel, langsung saya dinotice! Saya bahkan diminta menuliskan pesan dan kesan sebagai alumni, yang mana saya pikir inikan ujian bidang IPS, sementara saya anak IPA, saya belajar sendiri kok bukan dibantu bimbel. Dengan angkuh dan merasa dendam terbayar (hahaha) saya tidak menghadiri panggilan bimbel. Saya putar haluan: kuliah di Yogyakarta. Saya kuliah di kampus swasta di Jogja, dan saya resmi terdampar di jurusan Teknik Industri. Dari sana, 4,5 tahun kuliah saya adalah kombinasi antara belajar Teknik Industri dan... hidup di Dojang (bahasa korea artinya tempat untuk berlatih Taekwondo) Kalau ditanya, "Kuliah Teknik Industri itu rasanya gimana?", jawaban jujur saya adalah: "Saya lebih banyak di Dojang daripada di kelas.” Gelar S.T saya dapatkan dengan perjuangan melawan kemalasan 😅, tapi ilmu yang paling membekas dan setidaknya membuat saya seperti menemukan Oasis di gurun (halahh) adalah CAD/CAM (yang untungnya saya suka karena merasa seperti main game desain) selebihnya? Yah, anggap saja saya mahasiswa "gaib" yang cuma muncul saat absen atau pas ada jadwal praktik yang tidak bisa ditinggal.

4.5 tahun terasa cepat karena saya sibuk ber-Taekwondo bersama teman-teman (yang bukan anak Teknik Industri haha) Jujur saja sebetulnya saya tidak ingin hadir di acara wisuda, karena pikiran saya simple, ‘toh sudah lulus ujian pendadaran, di acara wisuda juga hanya serah terima ijazah, nanti kan bisa juga diambil di Tata usaha’ begitulah pikirku si ‘mageran’.. saya tidak merasa happy dan tidak ada kebanggaan.. ya! karena demi orang tua saja, anggaplah itu uang investasi mereka yang harus ‘dipanen’ .Saya (dengan menggerutu tentu saja) akhirnya datang dan diwisuda dengan foto-foto di studio juga hadeeh kalo dipikir ngapain sih haha.

Yeey aku bisa bernafas !! (SEMENTARA..) 😆😆

Chapter 2: Masa 'Gap Year' yang Tidak Direncanakan