Setelah lulus, saya pikir hidup bakal langsung "lancar jaya." Ternyata? Saya salah besar.
Dua tahun lamanya sejak wisuda, saya masuk ke fase yang kalau dipikir-pikir sekarang... it was a total crisis. Sementara teman-teman kuliah saya sudah pamer foto ID card kantor di LinkedIn atau update pencapaian karier mereka, saya? Saya adalah spesialis pengirim lamaran yang "terima kasih telah mendaftar, tapi kami memutuskan untuk melanjutkan dengan kandidat lain." Saya sudah di tahap hapal mati isi template email penolakan. Puluhan kali ditolak. Ditolak mentah-mentah oleh perusahaan yang bahkan nama perusahaannya saya lupa. Setiap selesai interview saya pulang, lalu menangis, bahkan ada kalanya saya tak bisa menahan tangis di jalan menuju pulang. Huft..
Jujur, itu masa yang paling bikin minder. Kamu merasa seperti software yang outdated—banyak dicari, tapi pas di-install, nggak compatible. Setiap buka media sosial, rasanya seperti dikeroyok kenyataan: "Semua orang maju, kenapa saya masih di sini?" Di fase ini, saya merasa menjadi "kegagalan berjalan." Saya merasa ijazah Teknik Industri saya cuma jadi pajangan dinding yang ironis. Padahal saya lulusan teknik, tapi saya sendiri nggak bisa "merekayasa" jalan karier saya sendiri. Tapi, melihat ke belakang, dua tahun "menganggur" itu bukan cuma soal ditolak kerja. Itu adalah waktu di mana saya dipaksa berhenti dari "rel" yang dibuat orang lain. Saya dipaksa untuk mempertanyakan: "Sebenarnya, apa sih yang saya mau? Apakah saya memang harus kerja di kantor, atau ada sesuatu yang lain?"
Ada satu episode "tragikomedi" yang harus saya ceritakan. Saking desperate-nya saya saat itu, saya sampai nekat daftar beasiswa S2 dari pemerintah regional Jepang. Jurusannya apa? Applied Mathematics. Iya, Matematika Terapan.
Kalau kalian tanya, "Itu lo banget nggak?" Jawabannya: Jauh banget. Itu bukan saya banget, jaman kuliah saja nilai kalkulus saya jeblok dan sering mengulang haha ironis!. Tapi karena saya "anak baik" yang patuh sistem, saya tetap hajar.
Drama dimulai saat saya dapat respons positif dari seorang Sensei. Rasanya sudah bahagia sentosa, serasa sudah beli tiket pesawat satu arah. Saya diminta menyesuaikan proposal riset dengan topik yang beliau ingin garap. Jadilah saya "tersesat part-2". Saya mendadak jadi mahasiswa paling rajin sedunia—begadang sampai pagi cuma buat breakdown jurnal-jurnal beliau. Saya memaksakan otak insinyur ‘abal-abal’ ini buat paham rumus-rumus rumit yang kalau dilihat lama-lama bisa bikin mata kelilipan. Saya sudah merasa jadi ilmuwan masa depan... sampai akhirnya hari tes Japanese Proficiency tiba.
Hasilnya? GATOT. Gagal Total. A.k.a Zonk. Sensei hanya menyampaikan ‘turut berduka cita’ kepada saya. Ya hancur sudah harapan terakhir saya.
Masa itu memang pahit, rasanya seperti debug program yang error-nya nggak ketemu-ketemu. Saya memang pada dasarnya pendiam namun jadi pandai ‘melobi’ orang, berkat pengalaman menjadi pengurus UKM bertahun-tahun haha. Padahal dalam interview kerja saya cukup pede, Namun hasilnya mana? nihil. Sejak saat itu saya jadi minder dan berusaha membangun dinding untuk menutupi kegagalan saya, ya saya malu dengan teman-teman. Saya mengisolasi diri.
Sekarang kalau saya duduk tenang dan berpikir, hidup itu memang lucu ya. Sejungkir-balik apa pun manusia berusaha, kalau Allah bilang, "Bukan di situ jalannya," ya sudah. Proposal Master saya akhirnya cuma berakhir jadi sampah digital di hard drive, dan saya sadar: takdir itu bukan soal seberapa keras kita "memaksa" pintu untuk terbuka, tapi tentang sadar kapan harus berhenti menabrak pintu yang memang terkunci rapat, demi menemukan pintu lain yang sebenarnya sudah disiapkan.
Chapter 3: Pindah ke Jepang (Bukan "Liburan Gratis", tapi "Misi Pelarian")