Di priode 1,5 tahun “jalan di tempat” akhirnya Bapak saya buka suara, “sudah kamu kerja ke Jepang aja, kebetulan dibutuhkan engineer cewek di perusahaan kenalan teman bapak, besok kamu kursus bahasa jepang!”

Banyak yang mengira saya ke Jepang karena privilege yang mulus-mulus saja. "Wah, enak ya dibantu link bapak," begitu kata mereka. Jujur, buat saya, itu bukan privilege. Itu beban. Ya, saya memang dibantu link bapak saya yang kenal orang Jepang. Tapi di baliknya? Ada ekspektasi yang berat: "Jaga nama baik." Itu artinya saya nggak bisa bertingkah, nggak bisa mengeluh sembarangan, dan harus menjaga citra. Itu bukan tiket menuju surga, itu lebih mirip "sangkar emas" yang sedikit lebih dingin karena lokasinya di Jepang.

Dua tahun saya bekerja sebagai engineer di sana, dan sejujurnya? Saya nggak betah. Saya yang tidak punya pengalaman kerja di perusahaan sejak lulus kuliah, ini langsung kerja di manufaktur di Jepang, dengan bahasa yang super kilat, orang ‘genba’ (dalam bahasa jepang, artinya orang di lapangan) kalo bicara seperti tak ada titik koma nyerocos teruss dan bahasanya kasar, bahkan saya di teriaki ‘goblok’ saat membuat kesalahan, jujur kaget! 😄. Lalu Job desk-nya tidak saya suka, ditambah lagi harus menghadapi senpai yang hobi bully. Hari-hari saya di pabrik rasanya seperti loop program yang error terus-menerus. Saya ingin resign? Tentu saja. Tapi masalahnya: Visa. Saat itu visa saya cuma berlaku 1 tahun. Itu belenggu paling nyata. Kalau saya nekat resign saat itu juga, saya cuma punya waktu singkat untuk cari kerja lagi—yang mana resikonya besar banget. Jadi, saya pakai "logika teknik" saya: saya tidak boleh emosional. Saya harus bikin strategi.

Saya sabar. Saya tahan diri selama setahun, fokus mengurus renewal visa sampai akhirnya saya dapat jatah 3 tahun. Begitu visa 3 tahun itu di tangan? It’s game over untuk tempat kerja lama saya. Saya masuk ke mode "beast mode". Setahun penuh saya bekerja gila-gilaan, menabung sampai ke titik maksimal, menyusun rencana cadangan, dan akhirnya saya cabut. Saya pindah ke Osaka dengan tabungan yang sudah saya hitung matang-matang dan kebebasan yang saya beli dengan kesabaran luar biasa. Bagi saya, pindah ke Osaka bukan cuma soal pindah kota. Itu adalah bukti bahwa saya akhirnya berhasil "nge-hack sistem" dan membebaskan diri saya sendiri.


Chapter 4 : Shin Sekai (Dunia Baru) di Osaka