Rencana awal saya di sini? "Naik level" dengan ambil S2 (lagi haha). Saya belajar ujian masuk sambil kerja partime sebagai production engineer di sebuah pabrik skin care dan kosmetik no.1 di Jepang. Senang, disana banyak anak muda jepang seumuran saya, saya bisa punya teman yang seru ditambah antusiasme mereka yang penasaran sama orang asing haha (saya satu satunya orang asing di sana) hari-hari saya yaitu kerja dari pukul 06:00 sampai 15:00 lalu malam belajar, weekend melakukan hobi atau sekedar sepedaan ke taman.

Waktu berjalan sampai saat yang ditentukan.

Dan ternyata, saya harus menghadapi kenyataan pahit: saya gagal tes karena kendala bahasa (lagi dan lagi) Calibration error, lah istilahnya.

Mau tidak mau, saya harus cari pekerjaan tetap sambil lanjut jadi engineer (karena visa tidak mengizinkan bidang lain). Dan di sinilah "Siksaan Part 2" dimulai. Saya masuk ke sebuah perusahaan yang atmosfernya sangat toxic. Bullying? Ada. Ditekan? Tiap hari. Bahkan saya punya julukan yaitu ‘Hebi Onna’ yang kalau di artikan adalah ‘wanita ular’ hahaha katanya saya licik, kerja tak becus tapi ingin terima gaji.

Saya sempat mengajukan resign baik-baik, tapi perusahaan menolak. Lalu, terjadilah momen paling ironis dalam karier saya. Saya tetap bertahan dengan sangat-sangat berat hati, setiap hari saya rasanya tidak ingin pergi ke kantor, bahkan saya suka mencari jalur kereta yang lebih rumit dengan harapan tidak cepat sampai ke kantor. Beberapa bulan berlalu dan suatu hari kepala HR memanggil saya, tanpa basa basi ‘skakmat’ menegur saya langsung ke inti masalah, menatap tajam, dan mengucapkan kalimat yang seumur hidup nggak akan saya lupakan: "Dian-san, mulai besok kamu tidak usah datang ke kantor lagi. Masih banyak, bukan, pekerjaan di luar sana?" Yang tentu ngomongnya tidak dengan nada baik-baik dongs! Tentusaja dia murka haha. Saya dengan sigap, lantang dan cepat bilang ‘Haik, wakarimashita!’. Hari berlalu dan malam hari saat saya di kamar, saya masih memproses kejadian siang tadi.. saking kagetnya, bingung, dan... relief. “Gila! Habis diinjak-injak gw dibuang.. kenapa baru sekarang sih! Gw harus cari kerja!”

That's a new low, tapi di saat yang sama, itu adalah tiket kebebasan saya. Saya keluar dari kantor itu bukan dengan rasa kalah, tapi dengan senyum tipis karena akhirnya saya bebas. Tapi pasti bukan hidup saya dong kalo tidak ada sulitnya haha..

Saya dilema, gaji terakhir saya hanya cukup buat bayar uang sewa apartment, saya harus cepat cari kerja.. begitulah isi kepala saya.

Langsung saya job hunting, dan yang saya rasakan sungguh beda ya job hunting di jepang itu relatif cepat dalam dua bulan saya berhasil di proses sampai tahap akhir menjadi karyawan tetap sebagai Engineer di sebuah perusahaan dispatched Engineer yang kantor cabangnya juga ada di Indonesia tepatnya di Sudirman, wow!.

Selama hidup di Osaka ada juga potongan mosaic kehidupan di sana. Saya bisa tetap waras di tengah kekacauan itu? Jawabannya: Food Fotografi.

Di sela-sela kesibukan part-time dan belajar, saya punya "pelarian." Setiap kali saya masak, abang saya (yang entah kenapa punya insting seni lebih peka) selalu bilang, "Masak itu kan karya juga, lu foto lah!" Awalnya saya ragu, tapi saat saya mulai memegang kamera (Nikon D5500), dunia seolah berubah. Memotret makanan adalah cara saya "menata ulang" dunia yang berantakan. Saat kantor menganggap saya tidak kompeten, saya membuktikan lewat lensa bahwa saya bisa menciptakan keindahan. Itu adalah momen di mana saya sadar: saya bukan cuma engineer yang gagal di kantor, saya adalah seorang kreator yang sedang mencari panggungnya. Abang saya benar. Ternyata, "karya" itulah yang menyelamatkan kewarasan saya.

Chapter 5 : The Eastward Shift – Antara CNC, Overtime, dan Musuh Bernama N2