Setelah episode "dibully lalu dipecat" di Osaka, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan baru sebagai CAM Engineer sangat relate dengan keilmuan Teknik Industri saya sih, tapiii penempatannya jauh banget. Saya sangat sedih dan berat meninggalkan Osaka. Osaka tuh jepang yang mirip dengan jakarta, ya macet, banyak kriminal, pengemudi ugal ugalan yang klakson orang lain. Percayalah! Saya selama di jepang baru dengar klakson mobil ya di Osaka haha.

Yah berhubung butuh cuan untuk menyambung hidup (dan visa) dengan berat hati saya melakukan shift besar: pindah ke Tochigi. Ibarat software yang baru saja di-format ulang, saya masuk ke environment baru dengan tantangan yang sama sekali berbeda: mesin CNC.

Jujur, ini adalah tantangan teknis yang berat. Terakhir kali saya menyentuh mesin CNC adalah zaman kuliah, alias sudah "berabad-abad" lalu. Mengingat kembali teori-teori programming dan machining setelah sekian lama "menganggur" dan kerja serabutan itu rasanya seperti mencoba membuka file korup yang sudah bertahun-tahun tidak di-update. Saya harus belajar from scratch di tengah tekanan pekerjaan nyata. Dengan bahasa yang sulit, kanji, polite japanese yang mana itu digunakan ketika meeting atau angkat telepon. (By the way saya baru berani angkat telepon setelah 1,5tahun kerja di perusahaan saat ini loh) bagi saya suara orang di telepon terdengar seperti blablabla..orimasu! Balabla deshouka! Ora mudeng blas haha.

Tantangan sebenarnya bukan cuma di mesin. Musuh terbesar saya justru ada di buku teks: JLPT N2. Hidup di Tochigi jadi "siksaan" tersendiri karena dua beban kerja yang berjalan paralel. Di kantor, saya harus bergelut dengan bahasa Jepang teknis yang bikin otak panas (karena harus komunikasi kerja yang presisi). Di malam hari, saya harus "belajar lagi" untuk N2. Rasanya otak saya overheat. Lembur setiap hari, lalu pulang rumah masih harus berkutat dengan grammar dan kanji yang bikin mata lelah. Saya gagal N2 empat kali. Empat kali! Setiap kali melihat hasil "Tidak Lulus," rasa minder itu muncul lagi. Rasanya seperti gagal compile program terus-menerus. Saya sempat berpikir, "Apa saya memang nggak mampu?" Tapi, saya tidak punya opsi untuk menyerah. Saya butuh sertifikat itu bukan cuma buat gagah-gagahan, tapi sebagai kunci agar hidup saya lebih stabil di sini.

Dan akhirnya, pada percobaan kelima... It’s a pass. Lega. Itu perasaan paling akurat yang bisa saya deskripsikan. Bukan karena saya tiba-tiba jadi cinta mati sama bahasa Jepang, tapi karena sertifikat itu adalah "tiket keluar" dari siklus belajar yang menyiksa. Dengan N2 di tangan, saya akhirnya bisa "bernafas." Saya tidak perlu lagi menghabiskan malam dengan buku teks yang membosankan. Akhirnya, bandwidth otak saya bisa dialihkan ke hal yang benar-benar ingin saya kuasai: CNC dengan level expert dan dunia baking yang sudah lama saya impikan. Tochigi akhirnya bukan lagi jadi tempat "pengasingan," tapi tempat di mana saya mulai membangun akar.

Chapter 6 : Tochigi, CNC, dan Cita-cita "Nggak Keluar Rumah”