Jujur, kalau saya review ulang perjalanan hidup saya, sering muncul pertanyaan di kepala: "Kenapa hidup saya banyak nggak enaknya ya?" Haha

Tapi ya sudahlah, mari kita anggap saja itu biaya langganan untuk sebuah cerita hidup yang tidak membosankan. Kalau semuanya lancar, mungkin saya sekarang sudah jadi orang membosankan yang hobinya cuma nonton TV.

Pindah ke Tochigi, tepatnya Kanuma City, adalah bab baru yang... sangat spesifik. Kalau Anda membayangkan Jepang itu neon Tokyo atau Osaka yang ramai, lupakan. Kanuma itu definisinya: kawasan industri yang dikelilingi sawah. Monoton. Kalau mau cari hiburan, ya paling cuma bisa melihat pabrik atau membantu petani (bukan saya, sih).

Bekerja sebagai engineer di sini pun punya sensasi "horor" tersendiri. Ingat, saya sudah lama vakum dari dunia permesinan. Tiba-tiba harus terjun lagi ke dunia CNC? Itu rasanya seperti disuruh menjinakkan bom. Saya selalu bekerja dihantui rasa tidak tenang di malam-malam saya. "Apakah programming saya tadi benar? Kalau typo, mesinnya error, produknya NG (cacat), apakah mesinnya akan baik-baik saja, senpai atau bos besok bakal marah lagi nggak ya?"

Itu adalah siklus stress yang sangat nyata. Lembur, dimarahin senpai, takut salah programming, repeat. Tapi, di balik kesialan-kesialan itu, Kanuma memberikan saya sebuah "berkah" yang tidak terduga: Kesepian yang sangat saya butuhkan. Karena tidak ada teman dan tidak ada hiburan, saya yang memang introvert garis keras ini akhirnya menemukan zona nyaman saya. Cita-cita saya yang tadinya cuma "bagaimana biar nggak keluar rumah" akhirnya terwujud secara alami di Kanuma.

Saat dunia luar hanya berisi pabrik dan sawah, saya justru menyibukkan diri di dalam rumah. Kamera Nikon saya jadi teman paling setia. Dapur menjadi laboratorium tempat saya "bereksperimen" dengan resep dan plating. Di saat orang lain mungkin akan depresi karena terisolasi di Kanuma, saya justru merasa sedang "menginkubasi" diri. Di tengah kepungan pabrik tempat saya bekerja, saya sedang membangun ‘rencana’ di dalam kepala saya, dari dalam dapur rumah saya yang tenang. Siapa sangka, dari tempat "terpencil" yang membosankan itulah, ‘rencana’ besar saya justru lahir.

Intermezzo: M30 = Program Selesai (Tanpa Happy Ending)