Sebelum menapakkan kaki di Jepang, saya hanya mengenal konsep kokuhaku dari anime atau drama. Saat melihat adegan perempuan menyatakan cinta duluan, respons saya selalu: 'Kok berani banget sih? Apa nggak takut ditolak? Kalau saya sih ogah!' Saat itu, bagi saya, menyimpan perasaan dalam diam adalah seni—dan jujur saja, saya adalah 'profesional' dalam urusan cinta bertepuk sebelah tangan. Saya merasa bisa move on dengan anggun tanpa harus perlu ada konfirmasi apa pun.
Namun, setelah sekian lama tinggal di sini, perspektif saya berubah. Ternyata, kokuhaku bukan sekadar keberanian yang ugal-ugalan. Ini tentang closure. Saya akhirnya mengerti betapa melelahkannya hidup dalam ketidakpastian: 'Apakah dia suka, atau cuma basa-basi?' Pikiran itu benar-benar mengganggu, apalagi bagi saya yang otaknya terbiasa bekerja dengan data presisi. Tujuan mereka (perempuan Jepang) melakukan kokuhaku ternyata bukan cuma soal ego, tapi supaya pikiran tenang. Kalau diterima, syukur. Kalau ditolak? Well, setidaknya mereka bisa berhenti menduga-duga dan bergegas move on. Awalnya, konsep ini sama sekali tidak relate dengan prinsip 'anggun dalam diam' saya. Tapi, entah bagaimana, roda nasib berputar. Sampai akhirnya, saya pun melakukan hal yang sama."
Lucunya hidup ini. Dulu saat masih di Teknik Industri, saya adalah mahasiswi 'gaib' yang lebih sering absen daripada hadir di kelas. Eh, giliran sudah di Jepang, saya malah jatuh cinta setengah mati sama teman seangkatan di TI, yang dulu bahkan nyaris tidak pernah saya sapa. Jarak Jepang-Indonesia itu ternyata bukan cuma soal kilometer, tapi soal bandwidth emosi yang terkuras habis. Dia di sini, saya di sana, membuat kepala saya sering cenat-cenut. Ada masa di mana kerja jadi tidak konsen, hanya karena menahan perasaan yang tidak kunjung tuntas. Saya sempat sampai di titik 'curhat' pada aplikasi note di HP—paragraf yang sudah saya tulis dengan sintaks yang rapi, debug berkali-kali, tapi berakhir di tombol save tanpa pernah berani saya kirim. Sebenarnya, saya tahu kami punya tembok besar yang belum ada solusinya—masalah klasik ala orang Indonesia. Dia punya jadwal ibadah di hari Minggu, sementara saya punya jadwal '5x sehari' Senin sampai Minggu. Ya, singkatnya: kami punya 'hari' yang berbeda. 🤣
Saya masih ingat betul kapan pesan itu dikirim. Saat istirahat siang di kantor, lewat DM Instagram (ya memang saya sepengecut itu, hahaha), saya tekan logo panah 'send'. Waktu itu setiap kali saya membaca pesan saya untuk dia, rasanya ―Pengen mati ajaー 🤣 “kok bisa sih gw mengirim chat begini?!” Bahkan teman-teman yang tau soal ini semuanya tertawa terbahak-bahak. Katanya saya sudah gila. Hahaha. Itu adalah pertama kali dalam hidup saya menyatakan cinta, asli !
Di pikiran saya saat itu: apa yang terjadi, terjadilah. Mungkin dia pikir saya agresif? Terserah! Toh, jujur saya memang ingin ditolak supaya bisa move on. Namun, feedback-nya malah membuat saya tercengang dan berujung pada satu pertemuan 'Waduh! Kenapa gini?'. Ya akhirnya, takdir memaksa kami bertemu saat saya sedang summer holiday ke Indonesia. Bagi saya, hari pertemuan itu seperti uji nyali acara horror televisi: Dunia Lain hahaha. Saya harus bertatap muka dengan dia setelah saya mengirimi pesan pengakuan cinta haha. Ngirim pesan lewat DM saja sudah berdebar-debar, ini lagi ketemu dan duduk sebelahan membuat jantung saya mau copot. Seharian itu saya banyak diamnya karena terlalu nervous. Mungkin di pikiran dia saya tidak menikmati pertemuan kami ya.
Setelah kembali ke Jepang, saya merasa semakin berat dan bimbang buat menyudahi. Karena saya tidak benar-benar mendapat kepastian. Tidak bilang mau komitmen tapi perlakuan dia ke saya hari itu tidak menunjukkan saya ditolak. ‘Jadi gimana ini? Kenapa bukan ditolak mentah-mentah aja sih gw?!' Tapi, saya harus membangun kesadaran untuk diri saya sendiri. Masalah klasik: 'Beda Hari' tadi tetap tidak ada solusinya. Belum lagi kita 'beda alam'—alam Jepang dan Indonesia, bahkan timezone pun ikut beda. Banyak banget ya bedanya, hahaha. Jadi ya sudah, shutdown system. Dengan berat hati, saya memutuskan untuk meng-cut semua potensi pertemuan kedua.
Hidup kembali berjalan, CNC pun masih suka error. Akhirnya, saya terjebak dalam hubungan bucin-antar-negara alias LDR. Masih dengan teman seangkatan yang beda program studi, tapi kali ini tidak 'beda hari' lagi, hahaha. Ya, circle percintaan saya memang segitu-segitu saja ya, hahaha. Saya pikir tadinya dengan meniadakan elemen 'beda hari' tadi, hubungan percintaan saya bakalan smooth, ternyata saya salah besar.
Ternyata kami punya perbedaan fundamental dalam 'merumuskan' suatu solusi. Saya melihat masalah menggunakan 'mata elang'—bukan mata elang di serial Kera Sakti, itu beda lagi!—saya melihat dalam scope yang lebih luas. Sementara dia melihat dengan 'mata ular'—sangat detail, sangat fokus pada satu titik. Yang mana kalau kami berdiskusi untuk mencari solusi, output-nya tidak pernah bisa mencapai consensus. Oke, karena ini ternyata sama fatalnya seperti 'beda hari' tadi, lagi-lagi dengan berat hati saya menyudahi ini.
Saya adalah orang yang selalu totalitas kalau punya perasaan. Jadi, kalau boleh saya menggambarkan situasi-situasi percintaan yang memble ini dengan satu kalimat adalah 'I love you, but I can't be with you.' . Kadang saya merasa lelah jatuh cinta. Bahkan saat hubungan saya yang terakhir ini selesai, saya tidak merasakan sedih, kesal, marah, menyesal, apalagi senang, menangis pun tidak. Kenapa saya mati rasa ya? Mungkin karena seluruh tangki emosi saya sudah habis untuk hubungan yang bertepuk sebelah tangan ini. Untuk sementara, sistem saya akan standby—beristirahat sejenak.
Terimakasih kepada mereka yang telah memberikan warna berbeda dalam hidup saya yang monochrome 😊